Postingan

kecewa

siapa yang tidak pernah kecewa? entah dikecewakan, ataupun mengecewakan. mau sengaja, atau bahkan enggak sengaja. berapa lamapun kamu hidup, seberapa baiknya kamu, seberapa positifnya kamu memandang hidup. pasti ada saat-saat kamu kecewa, dengan orang lain, dengan sesuatu, dengan hidup. saya termasuk orang yang sering kecewa. sepele alasannya. saya adalah orang yang paling tidak bisa dijanjikan sesuatu. pasti saya kejer sampai dapet. sampai yang dijanjikan benar-benar diberikan. kalau tidak, ngambek. dulu. belum tahu ada hubungannya atau tidak, tapi hidup merantau selama 4 tahun lebih, telah merubah saya drastis. khususnya dalam hal yang satu ini. kecewa. bukannya saya jadi jarang kecewa. tapi saya lebih cuek memandang kecewa. seminggu! tidak lebih. dikecewakan pacar, dikecewakan teman, bahkan dikecewakan saudara. tidak boleh lebih dari seminggu dan tidak boleh marah-marah. saya lebih mudah memaafkan ketidakpastian di dalam hidup. janji adalah ucapan dari seorang manusia. d...

mas

mimpi adalah bunga tidur. tidak ada yang bisa menebak malam ini kita mau mimpi apa. tapi saya memiliki arti mimpi adalah imajinasi. saya berimajinasi saat akan tidur dan saya namakan mimpi. walaupun akan terhenti begitu saya tertidur dan hilang kendali atas alam bawah sadar saya. saat berimajinasi, kita bisa melakukan apa saja, bertemu siapa saja, dan jadi apa saja. bebas. namanya juga imajinasi, kan? tapi dari sekian banyak kesempatan untuk menjadi apapun itu namanya, dari sekian banyak kebebasan memilih, saya selalu terjebak pada karakter seorang adek dari kakak laki-laki. sejak dulu, entah kenapa saya selalu pengin punya kakak laki-laki. berapapun jumlahnya. itu mungkin salah satu alasan kenapa saya dan kakak perempuan saya jadi sering berantem dulu. karena keinginan kami berbeda. saya kepengin kakak laki-laki, dia kepengin adik laki-laki. kecocokan dan ketidakcocokan, kan? untuk saya, punya kakak laki-laki menjadi semacam obsesi dan menimbulkan hal negatif. ketika saya...

yang (ternyata) berharga

Belum pernah sebelumnya saya begitu amat sangat bangga dengan RAMBUT saya, yang kata teman-teman tebal. Walaupun tidak asli lurus. Tapi saya suka dan sayang. Entah kenapa tiba-tiba saya pengin potong poni dan larilah saya pada partner saya. Dia bukan tukang cukur profesional tapi pengalaman selama KKN, potongan dia ke rambut saya cukup memuaskan. Dan percayalah saya. Poni, fix! Masih ada sedikit waktu sebelum pendadaran teman saya, dan oke, "di slayer dong rambutnya, biar enggak lurus banget gini. Rata pula ujungnya." Dan begitu selesai... eng ing eng. Ternyata dia tidak hanya melakukan slayer tapi juga menipiskan. SAYA KAN ENGGAK MINTA DITIPISIN!!!! Asli... pengen banget saat itu juga saya nangis ngeraung-raung di depan dia minta rambut saya dibalikin. Tapi enggak mungkin kan? Dan, sekarang, saya males banget ngeliat rambut saya sendiri. Dibotakin aja sekalian gimana? Kemarin, saya down dan saya pikir akan gila. Sekarang saya masih galau. Gak tau sampai kap...

Proses

Di keluarga besar bapak saya, ada sebuah tradisi atau budaya atau kegiatan rutin atau apalah, apapun namanya silahkan namakan sendiri. Tapi kalau kami menyebutnya Proses. Yup, proses. P-R-O-S-E-S. Bisa dibilang keluarga besar bapak saya termasuk keluarga santri. Punya landasan agama yang kuat. Punya pesantren juga malah. Tapi tidak tahu bagian keluarga atau silsilah  keluarga yang sebelah mananya. Terlalu banyak silsilah, terlalu banyak anggota, terlalu rumit. Saya saja tidak kenal semuanya. Di Jawa Timur, tepatnya Pasuruan, ada salah seorang paman yang mengajar atau punya sebuah yayasan atau padepokan yang mempelajari ilmu kebatinan. Menyucikan hati, pikiran dan badan. Bisa punya indra keenam juga katanya. Ada satu atau dua ning (sebutan untuk mbak) yang memang dari sananya sudah punya indra keenam dan mengasahnya di padepokan tersebut. Dan ada salah satu ning saya yang - katanya - sangat 'bersih'. Belum pernah menikah dan sangat suci. Dan disinilah awal mula proses...

Undefined

Sulit untuk menyebutkan satu kata yang bisa mendefinisikan dan menggambarkan mereka. Pengemis? kesannya kog, terlalu vulgar dan relatif kasar. Tapi ya, saya mau bicara soal mereka. Dulu, saya tidak se- concern ini memandang mereka, dari kacamata mahasiswa dan orang biasa. Saya tidak terlalu perduli dan lebih sering merasa kasihan. Dari mulai anak-anak, remaja, setengah tua, hingga yang tua renta mengemis di sepanjang jalan dan lampu merah. Hampir di seluruh pelosok negeri ini. Dulu. Sekarang. Jumlahnya semakin banyak dan tidak lagi terpusat di jalan-jalan besar dan lampu merah. Tapi di sepanjang jalan hingga merambah perumahan. Perspektif saya masih menerima pada mereka yang mengemis dengan modal. Maksudnya: menggunakan sedikit usaha, seperti menari, main musik a.k.a pengamen atau pemain musik jalanan, atau sulap atau topeng monyet. Karena itu saya definisikan sebagai kerjaan. Pekerja jalanan. Tapi saya tidak habis pikir dan masih belum bisa menerima manakala mereka hanya du...

Hari Ulang Tahun = Bersyukur

Gambar
Tidak tahu sejak kapan, saya terjebak pada common sense sebagian besar masyarakat bahwa hari ulang tahun itu penting, patut diingat setiap tahun, khususnya orang-orang terdekat. Sehingga menjadi dosa besar ketika teman, pacar, orang tua, sengaja atau tidak sengaja, lupa. Padahal merayakan hari ulang tahun sama halnya merayakan pengurangan usia. Semakin tua, semakin dekat dengan Yang Kuasa. Tapi tidak ada salahnya juga merayakan hari ulang tahun sebagai bentuk syukur masih diberikan umur. Dan rasa syukur tidak perlu ramai-ramai. Sejak TK sampai SMA mungkin, setiap tahun keluarga selalu merayakan hari ulang tahun saya, entah dengan membuatkan kue ulang tahun super enak (ibu saya juara kalo bikin kue! :D) dan mengundang teman-teman, atau hanya membelikan saya sesuatu yang saya minta, biasanya pakaian. Tapi sejak saya kuliah dan mayoritas hari ulang tahun saya tidak dirayakan di rumah karena masih berada di Yogya, lambat laun saya merasakan perubahan makna secara total. Ja...

:))

Gambar
1 tahun yang lalu, kita mengadakan diskusi dan mendapatkan kesepakatan. Kita menolak disebut jadian. Kamu, aku adalah partner, bukan pacaran. Kita melakukan banyak hal bersama, bukan sekedar teman nonton dan makan. Kita mencoba saling mengerti hidup lewat sudut pandang masing-masing. Kita saling mendorong untuk membuka banyak pintu kesempatan. Aku, kamu, adalah partner segala bidang Aku, kamu, tidak hanya ada saat kesulitan Aku, kamu, berbagi kebahagian. Impian kita tidak muluk-muluk Aku, kamu, semoga mampu melewati semua Jarak bukan apa-apa Aku, kamu, semoga menjadi partner hidup Selamat Hari Kesepakatan, Partner..