Postingan

Hobi Kopi

Buat saya, kopi adalah kebiasaan. kebiasaan yang ketika tidak kamu lakukan, maka akan menimbulkan dampak dampak meresahkan. seperti ada sesuatu yang hilang. kalau pada diri saya, dampak yang terjadi adalah pusing dan lidah seperti ada yang kurang. beberapa tahun belakangan ini, kopi menjadi selebritis dunia yang dielu elukan hampir di jagad dunia. mulai dari coffee shop dengan lapak terlihat maupun coffee shop yang hanya menerima pesanan melalui Go-Food. selebritas ini lahir dengan berbagai macam nama. Sagaleh, Animo, Tuku, Kalima, dan macam macam lainnya dengan predikat yang sama kopi kekinian. sejauh ini, rasanya sama. tetap terbuat dari biji kopi. hanya campurannya yang berbeda beda. ada yang creamy sekali, ada yang flat sekali rasanya, ada yang terlalu manis, ada yang terlalu pahit, ada yang cocok di lidah saya, ada yang biasa saja. tapi ditengah kopi kekinian itu semua, saya tetap lebih suka kopi bikinan sendiri. takarannya sudah pas dengan jari saya dan lidah saya. haha. ...

to tie the know

saya mau menuliskan tentang pernikahan. sebuah kata sakral yang menghantui saya selama beberapa waktu terakhir ini. dulu, ketika saya masih tinggal bersama orangtua, di komplek, saya sering mendengar orang orang tua berbicara tentang anak-anak mereka yang akan menikah. "sudah lulus sekolah, sudah sama-sama bekerja, mau apalagi sih?" jadi kesan yang tertanam dalam diri saya saat itu, once kamu bekerja dan punya penghasilan sendiri, kamu bisa menikah. itu batasannya. ya, dan sekarang saya berada pada batasan itu. saya sudah lulus kuliah, saya sudah bekerja dan alhamdulillah bisa membiayai hidup saya sehari sehari sendiri dan dalam usia yang (sebenarnya) pantas untuk menikah. tapi yang saya justru sadari sebagai seorang perempuan yang sudah cukup matang, ada banyak hal yang justru muncul sebagai batasan untuk memutuskan menikah. atau setidaknya batasan itu muncul dari dalam diri saya sendiri. menikah, bukan hanya persoalan seorang perempuan berumur matang dan sudah b...

Empat

Tidak ada hal lain yang diinginkan Daniel kecuali sampai di rumah dan memastikan keadaan Sara. Ia tidak pernah meninggalkannya selama ini. Dan ia begitu khawatir. Emosinya sudah teredam. Tergantikan dengan cemas mendalam. Begitu sampai di garasi mobilnya, Daniel bergegas keluar. Ia sedikit lega karena sepeda motor Sara ada di dalam garasi juga, dan itu berarti gadis itu ada di rumah. Tapi lampu rumah masih semuanya menyala. Bahkan ruang tamu dan ruang tivi. Sa? Saraaa? Panggilnya. Jam 7 pagi dan biasanya Sara sudah pindah tidur di depan televisi. Dengan segelas milo panas. Tidak ada sahutan. Daniel segera menuju kamar Sara. Tidak terkunci. Dibukanya perlahan pintu itu. Ia menarik napas lega. Gadisnya tengah tertidur nyaman membelakanginya. Daniel tersenyum, menyenderkan tubuhnya ke kusen kayu pintu. Dibalik kemarahannya, ia tidak memungkiri rasa kangennya teramat besar pada istrinya. Ingin sekali ia memeluknya sekarang juga. Melompat ke tempat tidur dan memeluk erat Sa...

Backpacker Trip To South Korea

Gambar
Ok, sebenernya enggak sepenuhnya backpacker karena kami bawa tas punggung dan koper ukuran besar. Tapi kita berusaha untuk menjadikan trip ini low budget trip seperti halnya para backpacker. Jadi, akhirnya perjalanan yang dimulai persiapan beli tiketnya dari satu tahun lebih 2 bulan sebelumnya ini (November 2015) akhirnya terwujud. 1 tahun yang sebenernya enggak terlalu berasa lama. Karena tiba-tiba kita sudah dihadapkan pada keberangkatan yang tinggal menghitung hari. Saya, Mbak Chin dan Thasia, bertiga kita akhirnya berangkat ke Korea Selatan dengan menumpang Air Asia. Perjalanan dimulai dari Jakarta pukul 4 sore menuju KL dan dilanjutkan lagi pukul 1 malam menuju Incheon International Airport. Perjalanan nyaris nekad ini, karena pertama, kita bertiga perempuan yang belum pernah sama sekali pergi ke Korea Selatan, kedua ini adalah musim dingin dimana informasi sebelumnya suhu udara mencapai minus 10 derajat. Lol Segalanya berjalan mulus sampai akhirnya kami mendarat ...

411

Jadi, 4 November kemarin, di hari Jumat cerah ceria dan mendung, di gadang-gadang sebagai hari bersejarah umat Muslim Indonesia dikarenakan adanya aksi damai yang diikuti hampir 500 ribu orang dari segala penjuru Indonesia. tujuan utama adalah Istana Presiden. Saya tidak membicarakan isu apa yang melatarbelakangi aksi damai tersebut, tapi saya hanya akan membagi pengalaman pertama saya berkantor di tengah kota Jakarta yang dilalui jalan-jalan utama dengan situasi siaga I. diulang SIAGA 1 sejak seminggu sebelumnya, kantor saya sudah menyebarkan email informasi terakit kegiatan aksi ini beserta rute-rute yang akan dilalui, sistem buka tutup pintu gedung, dan sebagainya. bahkan management di kantor saya mengkhusukan dapat tertutup bersama para Dept. Head terkait kegiatan BCP yang akan dilancarkan. Pertama, bawa baju ganti dan makanan siap saji sebagai jaga-jaga kalau-kalau situasi memanas dan terpaksa bermalam di gedung kantor. bahkan kantor sudah menyiapkan sleeping bag. Kedua, p...

Tiga

Tidak aktifnya ponsel Sara membuat laki-laki itu panik. Tidak pernah sekalipun Sara mematikan ponselnya. Daniel keras untuk itu. Dan Sara tahu itu. Bahkan ketika mereka bertengkar ringan, tidak pernah Sara mematikan ponselnya. Mau gua cariin tiket pulang, buddy? Seakan tahu kecemasan di wajah sahabatnya, Ferdi langsung mengontak salah satu maskapai penerbangan dan memesankan satu tiket untuk Daniel. Yang malem udah habis. Jadi gua ambil yang paling subuh besok buat elu. Jam 5.45 berangkat. Daniel mengganguk. Makasih banyak, Fer. Oke, sekarang daripada lo cemas kayak gini, belum tentu juga istri lo kenapa-kenapa, ayok kita jalan. Udah 3 hari lo semedi. Sekarang saatnya turun gunung. Gua tahu tempat buat ngopi yang paling enak di sini. 

perpisahan

entah berapa kepergian yang saya lalui dengan tetap bekerja, melanjutkan apa yang detik itu sedang saya lakukan. sambil dengan berusaha keras menahan gemuruh di hati dan lautan air mata yang mendobrak ingin keluar. entah berapa perpisahan yang tidak mampu saya datangi langsung. untuk sekedar berdoa di pinggir peristirahatan terakhir mereka. berbagi tangis dan kesedihan bersama para saudara. mengenang kebaikan dan momen yang tidak akan kembali terulang selamanya. ya, saya sedih. mengakui itu bagian dari hidup saya sekarang. resiko anak perantauan yang memilih bekerja dan hidup jauh dari lingkaran keluarga, dari kampung halaman. yang perlu lebih dari satu jam untuk berlari pulang begitu berita itu dikabarkan. ya, saya menyesal. mengakui saya tidak pernah mampu menjadi sandaran, meminjamkan bahu dan memberikan pelukan menenangkan kepada orang-orang tersayang saya, yang hati jauh lebih hancur berkeping-keping. sejujurnya saya tidak punya hak untuk bilang saya paling sedih, karena k...